10 Puisi Nasehat Hidup Terbaik Dari Hida

Puisi nasehat merupakan puisi yang berisi tentang nasehat-nasehat kehidupan, puisi ini tentu sangat baik untuk kit abaca dan pahami maknanya. 

Puisi nasehat didalamnya terdapat petuah-petuah bijak dan mengandung pesan kebaikan. Ada pesan moral sekaligus himbauan untuk berlaku lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Untuk sahabat puisi.my.id berikut ini hida bagikan 10 puisi nasehat tentang berbagai hal.


DARI SONONYA
BY:Hida Koma

Tak ubah
Tak bisa diubah atau berubah
Buah jatuh tak jauh dari pohon buah
Begini ya begini
Begitu ya begitu
Sebanyak apapun pernak-pernik manik-manik kota menghiasinya
Aku tetaplah aku
Tak kan berubah jadi kamu
Ini ya ini
Itu ya tetep itu
Biar sebagus apa sutera menyelimutinya
Sejauh apa nahkoda membawanya berlayar sisir samudera
Sesering apa besi beroda ajaknya keliling dunia
Andai kata demikian
Saya tetaplah saya
Takkan pernah jadi dia atau siapa
Apapun itu yang pernah ku laku
Macampun itu yang sudah ku temu
Aku kan tetap jadi aku
“Udik Tak terdidik
Ndeso
Tetep songko asale
Tetep sonko konone”
Biarpun kota mendidiknya dengan peradabannya
Biarpun kota pengaruhinya dengan warna pergaulannya
Tetap sama, tak ada beda
Putih warnanya

ANTARA TIDAK DAN YA
By: Hida Koma

Duduk termenung disudut kayuh
Pikir mikir jauh tak berlabuh
Hingga subuh dan kembali subuh
Masih sama, 
Belum juga terbasuh
Gemericik air terpercik sedari tadi
Tapi jari jemari masih kering belum terbasahi
Inginnya segera
Nyatanya tapi lama
Dilema
Antara tidak dan ya
Yang mana?
Tidak,
Hati bersitegak
Ya,
Biaya belum cukup punya
Kepingan logam uang belum ditangan
Masih dalam bayangan
Tapi karep hati kerap kerep
Sudah madep mantep
Tidak bisa lagi diminta mendelep
Apalagi nyungsep
Duh, 
Aduh biyung aku ngadep
Sekarang atau tahun ngarep
Sebab pisau yang ku asah
Belum juga landep

NGAJI PASAN
By: Hida Koma

Madin di liburkan
Kupatan mapak usai dirayakan
Saatnya ramadhan datang dengan segala keberkahan
Ngaji pasanpun dikumandangkan
Mulai tanggal satu ramadhan hingga pertengahan
Kadang sampai menjelang lebaran
Atau sampai khatam

Ngaji pasan
Ngaji mandiri tak di wajibkan
Meski begitu ada yang kurang
Bila tak menjadi bagian
Ada yang pagi, 
Ada yang sehabis dzuhuran
Sekitar jam satuan
Sampai jam empatan

Saat pasan 
Jalan sawah jadi pilihan
Bukan lebih cepat atau lebih adem
Tapi bisa santai sambil blaworan
Perpanjang waktu susuri galengan
Sambil ngabuburitan
Sehingga sampai rumah, buka puasa hampir menjelang
Atau sekedar guyonan
Dongengan di gubukan
Menghindari masak
Atau membantu emak

TERSENYUMLAH
By: Hida Koma

Tersenyumlah,
Jangan biarkan bibir nan imut
Mengerut karena cemberut
Jangan buang dan tutupi cantik rona rai karunia ilahi
Dengan sinis muka tak manis

 Tersenyumlah,
Pancarkan betapa cantiknya ramah
Tebarkan!
Betapa manisnya senyum terulum
Jangan manyun
Jangan sayang,
Jangan biarkan manyun tutupi senyum

Gambar puisi tentang nasehat kehidupan menjadi lebih baik

SABAR
By: Hida Koma

“kesel ojo di lebokke ati”
Demikiankah adanya?
Jika.........
Aku terlanjur melakukannya
Terlanjur masuk
Dan memang sempat ngamuk
Baru ketika hujan reda
Serta gemuruh guntur tak berkeruh
Air jernih perlahan menetes
Murnikan hati 
Netralkan emosi
Kilat petir yang sempat menyengat susutkan semangat
Pelan-pelan padam
Lalu menghilang tinggalkan raga
Bersama hawa sadar yang mulai menjalar
Sabar!
Berkali-kali perintah itu ku dengar
Sabar!
 Sampai kapan?!
Sampai harga diri tak berarti lagi
Dan saat diri yang berharga dianggap tak bernyawa
Haruskah diam?!
Masihkah sabar berkumandang,
Tidak!
Tidak!
Jangan kira ini berontak merusak
Jangan!
Lalu?!
 Sembunyi di ketiak?!
Dan terus diam,
Bungkam akan ketidakenakkan?!
Bukan!
Bukan!
Aku bukan boneka mainan,
Bukan pula robot remotan


JUM’AT
By: Hida Koma

Jum’at,.....
Baru saja jum’at
Kembali  jum’at lagi
Jum,at....
Jum’at lagi
Lagi lagi jum’at
Adakah kiamat sudah dekat?!
Wa’allahu a’lam bissawab


JANGAN MARAH
By: Hida Koma

Bendung....
Bendunglah...
Bendung amarah
Jangan biarkan membuncah
Jika berdiri, 
Duduklah
Jika duduk,
Tiduranlah

SABAR( part II)
By: Hida Koma

Buka, tutup
Buka, tutup
Masuk, keluar
Keluar, masuk
Begitu seterusnya, setiap hari di lalui
Rutinitas monoton dijalani
Dengan rantai mata syaitan yang tak terputuskan
Sampai kapan?!
Kapan ‘kan sampai?!
Peluhku sungguh jenuh
Tapi, biar keluh bergemuruh
Rantai kan tetap berputar
Sebagaimana titah yang terkatakan
Begitu, begitu....
Jemu sudah, lelah telah
Selalu begitu jawaban yang ku dengar
Atas pertanyaan yang terlanjur mengakar
Sabar,
Berkali-kali kata nasehat 
Ku telan bulat-bulat dengan penuh hikmat
Tergerus oleh harapan, pupus
Dan hangus terbakar tekad yang terlanjur mengkilat
Menyajikan luka tak kentara
Tinggalkan lara tak teraba
Sakit yang di rasa tak jua rubah semua
Hanya jiwa-jiwa pekerja yang mengerti dan memahami bahasanya
Hanya raga-raga perkasa yang mampu sembunyikannya
Membungkam sagala jerit kesakitan
Memendam tumpuk harapan
Mengubur mimpi
Menimbun hasrat dan gelagat
Demi satu alasan pelarian
Hanya satu tujuan bertahan
“mereka yang jadi tanggungan 
Mereka yang jadi kebanggaan
Dan mereka yang jadi tumpuan kasih sayang”
Dengan atau tanpa berlian
Dia selalu tebarkan senyum kekuatan
Tak terkalahkan


DI BATAS SABAR
By: Hida Koma

Titik,
Setitik
Semula setitik
Hanya meletik
Lama-lama terpendam
Terkubur dalam
Pelan-pelan
Perlahan
Lambat laun terkeluarkan
Meledak
Dan jangan kaget bila terporakporandakan
Sebab, luka dalam menghujam
Menikam tanpa perasaan
Dan ketika semuanya terbongkar
Jaga dirimu
Jangan sampai terbakar
Sebab api kemarahan terlanjur menyala besar
Dan angin kebencian meniup pelan
Besar dan semakin besar
Sebab tabung sabar tak muat lagi menyimpan


KURANG APA?
By: Hida Koma

Pejamkan matamu!
Pejam
Hanya hitam dan kelam yang terlihat
Gelap
Tiada seberkas cahaya tersirat
Bersyukurlah,
Dunia masih indah kau indrainya
ber tasbihlah,
betapa maha sucinya sang pencipta cahaya
dan kau di kasihinya
kurang apa?
Tiada!
Yang mana yang belum sempurna?
Tak ada,
Kau nikmatinya,
Durhakalah bila kau mengingkari
Kau merasakannya,
Terkutuklah bila kau tak sadari

SEPARUH NAFAS TERSENGGAL
By: Hida Koma

Buka!
Buka matamu kawan
Buka!
Buka tabir yang menyelimuti
Singkapkan!
Singsingkan lengan
Pandanglah kedepan
Raih mimpimu 
Gapai citamu
Buka! 
Segera!
Sebelum embun  pagi  menghilang
Dan senja datang membayang
Ayolah, buka!
Didepan masih ada jalan panjang
Masih jauh langkah kau kayuh
Jangan mengeluh!
Jangan!
Usap segala peluh
Bina semangat agar tak luruh
Kawan!
Separuh nafas tersenggal untuk berjuang
Lebih berarti
Dari pada bernafas bebas
Tanpa azas

Itulah sepuluh puisi nasehat kehidupan terbaik dari hida dan dibagikan special untuk sahabat. Semoga dengan puisi diatas dapat memberikan manfaat untuk siapapun yang membacanya.
Hida
Hida Seorang Pengajar di salah satu sekolah swasta, Suka menulis puisi dan cerpen, dan saat ini setidaknya telah memiliki ratusan judul puisi dan puluhan cerpen, melalui blog ini berharap karya saya dapat bermanfaat dan menginspirasi sahabat pembaca.