Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

6 Puisi Cinta Dan Kerinduan Paling Indah Untuk Sahabat

Puisi Cinta dan Kerinduan paling indah berikut ini merupakan beberapa puisi indah dari saya (Hida) yang sengaja saya ambil untuk dibagikan kepada sahabat pembaca dengan harapan sahabat suka dan mendapatkan manfaat atas pesan dalam isi puisi ini.

Untuk sahabat puisi.my.id, berikut ini silahkan baca puisinya. Jangan lupa berikan koreksi dan masukan terkait puisi ini melalui form komentar dibawah ataupun melalui halaman contact yang sudah disediakan di puisi.my.id.

Gambar Puisi Rindu dan Cinta Terindah berjudul Kau dan Hatimu

KAU DAN HATIMU
By: H  i  d  a  K  o  m  a
Kumbo, 15 0ktober 2014
debur merindu pantai
karang timbul tenggelam menantinya datang
sedang sang pohon menenangkan
“Tungggulah sebentar”
“sampai kapaan?!”
“Sampai laut menjadi tawar?!”
“Atau kerang melenggang mutiaranya hilang?!”
Kau tak kan tahu arti penantian,
Sampai kau rasa sendiri menanti
Lihatlah kapal menjauh
Kau tak tahu dimana dia ‘kan berlabuh
Sedang sang ombak kembali tanpa berita
Dan angin berhembus diam tanpa  bahasa
Kau dengar nyanyian burung camar di kejauhan
Memilukan!
Dukakah ia atau bercerita duka?
Aku tak tahu,
Sampai ku temu bangkai kayu 
Yang terdampar disitu
Aku tak peduli
Hingga senja gelap ia tak jua merapat
Dan disini kukatakan pada semua
“penantianku  percuma, 
Sia –sia
Dan kini kerinduanku semakin rindu
Melebihi rindu debur pada pantai
Merindunya membuatku semakin merindu-Nya
Dan  rasaku semakin dekat saja dengannya dan Dia
Tak lama, akupun berkelana 
Menyusulnya dan bersua dengan-Nya
Selamat tinggal pantai fana’ku 


MERINDUNYA
By: Hida Koma  
15 Oktober 2014 

wahai engkau penghuni bumi sepertiku,
tengoklah aku juga rimba yang kuhuni
aku dan saudaraku tak banyak lagi
tegakahkau memunahkan kami
sedang kami berhak nafas
menghirup udara bebas
tanpa tindas
ataupun alas yang meranggas
kau tebas babar blas

wahai penghuni bumi sepertiku,
aku merindu hijaunya daun dulu
merindu rindangnya rumah tempat kami memamah
mereka sesamamu memperlakukanku dengan ramah
berkawan tanpa pilah
bersaudara tanpa ranah

wahai penghuni bumi seperti kami,
apa yang kalian cari
alam telah sediakan
dan kearifan yang kan menjawab segala kebutuhan
hanya jika kau bijak memanfaatkan

wahai penghuni bumi seperti kami,
sampaikan salamku(koala) juga salam sebangsaku untuk bangsamu
bukankah kamu sang kholifah bumi ini?
Sejatinya kaulah yang menjaga, melindungi, mengayomi,
bukan membasmi


SANG ANGIN
By: hida 

Masih terdengar suara jeritan
Melengking
Bunyinya nging-nging begitu nyaring,
Garing!
Setandus padang pasir merindu air
Kau dan hatimu bagai musim
Panas dan dingin,
Kadang semi, 
Lalu akhirnya gugur tanpa lebih dulu matur
Tapi ku tak bawur,
Dan masih ku lihat dengan jelas nyanyian angin barat yang kau tiupkan
Berhembus, beriku kesejukan
Mereda panas
Menyelimut dingin
Kau,
Tetaplah sang angin meski musim ganti bergilir


SALAM KOALA
By: H i d a K o m a
Kumbo, 15 Oktober 2014

dingin tempatku,
sekarang mendidih
tak panas memang tapi rumahku kebanjiran
sedang kau tak mendengar jerit kami
juga cicit anak kami
kalian yang melakukan
kami yang jadi korban
ozon bolong tanpa bisa di tambal
ikutkah kau merasakan?!
Ikut, 
Tapi kami dulu yang jadi korban
Baru setelah itu rasakan sendiri buah masam yang kau tanam
Tiada manis dibelakang
Nanti,
Rasakan sendiri
Saat daratan yang kau tempati tergenang
Saat lautan pasang tak pernah surut
Saat itu,
Mungkin baru terikrar dihatimu sedikit penyesalan
Dan saat itu,
Baru kau menyadari
Seberapa penting menjaganya agar tetap lestari
saat itu...
Kumbo, 15 )ktober 2014


BUNGA BANGSAKU (MELATI)
By: Hida Koma

biarlah tulip bersinar
dengan warnanya yang menantang
putih bungaku tak tergantikan,
biarkan tulip berkedap-kedip
pamerkan terangnya menyilaukan
putih bungaku kan tetap ayu
tetap ku berseru
“melatilah bunga bangsaku”
Dulu,
Kini,
Nanti,
Sapanjang waktu
Sepanjang gugusan pulau terbentang
Sepanjang tiang tegak menjulang
Sepanjang harapan dan masa depan


MENTARI JINGGA
By: Hida

Tak hanya rembulan dipurnama tiap bulan,
 mentaripun pagi ini berwarna jingga
 Ada yang lain, ada yang berbeda
Juga di mata sayumu
Kemana sinarnya yang bersahabat?!
Tak lagi bisa ku temu itu di sudut mata sipitmu
Yang kini semakin sipit
Ku tahu darah cina mengalir di setiap nadimu 
Tapi bukan itu penyebabnya,
Bukan!
Tapi hujanlah yang teramat deras kemarin turun di pelataran pipimu
Mengundang petir,
Menjadi teramat getir
Usaplah gerimis yang bertandang dijendela kaca
Perlahan,
Dan perlahan
Biarkan basahnya kering sendiri diterpa angin
Tak usah kau jemur
Sebab ku tahu 
Mentari belum hangat siang ini
Tunggulah esok atau lusa
Biar senja menjemput pilu yang selimuti harimu
Tak usah kau cegah
Tak perlu kau marah
Kau dan segala lukamu
Itu biasa
Siapa yang tak merana ditinggal yang di cinta
Siapa yang menghendaki perpisahan di ujungnya
Walau pertemuan telah mengisyaratkan
Yang bertemu pastikan berlalu
Tetap saja
Lara terasa
Sudah!
Berdirilah dari kursi hati yang patah
Jika kau hendak berbenah
Tak usahlah berlama-lama menungguinya
Tak perlu
Masih ada kursi lain yang menunggumu
Menunggu sediamu
Sambutlah,
Rajut kembali cinta yang sempat kusut benangnya
Buang segala perca yang tiada guna

Itulah puisi-puisi rindu dan cinta terindah dari Hida untuk sahabat semua. Semoga dengan puisi diatas sahabat dapat menemukan sustu pesan yang baik dan bermanfaat.
Hida
Hida Seorang Pengajar di salah satu sekolah swasta, Suka menulis puisi dan cerpen, dan saat ini setidaknya telah memiliki ratusan judul puisi dan puluhan cerpen, melalui blog ini berharap karya saya dapat bermanfaat dan menginspirasi sahabat pembaca.