Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PUISI PANJANG UNTUK RENUNGAN DARI HIDA

Puisi renungan dengan judul Yang Terbuang dan Terlalaikan ini merupakan salah satu puisi panjang dari hida yang mengisahkan tentang sikap anak kepada orang tuanya saat orang tua sudah tampak renta dan seolah tak berharga. 

Puisi ini banyak memberikan nasehat-nasehat untuk diri kita akan kewajiban berbakti kepada orang tua. Dan ini memang patut untuk menjadi bahan renungan bersama, banyak dari kita sering lupa kepada orang tua ketika sudah mapan, banyak yang lupa betapa orang tua kita dulu merawat dan mendidik kita dengan penuh kasih saying. Namun kini banyak anak ketika sudah besar dan mapan dan bersamaan itu orang tuanya sudah tua renta dan hanya sedikit tenaga yang tersisa malah disia-siakan seakan barang rongsokan yang tak berharga. Ini jelas sebuah hal yang tak patut dilakukan oleh seorang anak. 

Semoga dengan hadirnya puisi Yang Terbuang dan Terlalaikan ini dapat mengingatkan kita bersama agar selalu berbaki kepada orang tua kita. Untuk sahabat Hida, berikut ini puisi untuk kalian.

Gambar puisi untuk renungan hati dan penerang jiwa

YANG TERBUANG DAN TERLALAIKAN
 (based on true story)
By: Hida Koma

~#~

Kau baik padaku 
Saat sekarung beras masih di tanganku
Kau manis padaku
Saat sekarung gula masih manis kau rasa
Dan jika tinggal karungnya
Sikapmu yang sebenarnya tampak juga
Kau acuhkanku
Tak pedulikanku
Aku yang terbuang dan terlalaikan
Sedang aku ibumu
Dann kau anakku
Tanpa kata tiri membatasi
Aku bagimu bagai warisan
Andai laku
Akuu sudah kau jual dari dulu
Namun nyatanya tak jua
Dan aku tak ubahnya barang rongsokan saja
Di buang sayang
Kali aja masih ada yang berkenan
Di eman-eman memalukan
Membuatmu naik pitam
Aku kau singkirkan
Kau asingkan di pojokan
Kau pinggirkan aku di emperan
Dengan lampu temeram sebagai penerang
Kelap kelip bagai uplik saat lampu padam
Kau hindarkan aku dari keramaian
Takutmu menganggu tamu
Dan bikin malu
Sebab pikunku

~#~

Nak,...
Kau gadaikan yang masih tersisa
Kau uangkan dariku segala yang masih bisa kau raba
Kau makan semua hasilnya
Dan untukku sedikit saja
Kau foya-foya sementara
Sedang akhirnya saat semua tak lagi ada
Kau lupakan aku dan pura-pura lupa

~#~

Nak,...
Aku ibumu
Tapi kau malu panggilku ibu
Dan sebutkuu dengan panggilan baru
Sedikit lucu
Dan menghina ketidakberartianku
Tapi nak,
Kau lupakan satu atas diriku
Aku adalah warisan
Aku ibarat Al-Quran usang
Kau pajang di depan
Memalukan
Kau pinggirkan di pojokan
Dosa besar
“malati” orang jawa bilang
Kau melupakan itu nak,
Dan kini kegilaanmu beranak pinak

~~#~~

Itulah Puisi panjang untuk renungan persembahan dari Hida untuk sahabat tercinta sebagai pengingat kita semua agar selalu berbakti ke orang tua dan tidak mengecewakan atau menyakiti hatinya. Semoga dengan puisi ini dapat membuat kita menjadi anak yang selalu berbakti kepada orang tua kita.
Hida
Hida Seorang Pengajar di salah satu sekolah swasta, Suka menulis puisi dan cerpen, dan saat ini setidaknya telah memiliki ratusan judul puisi dan puluhan cerpen, melalui blog ini berharap karya saya dapat bermanfaat dan menginspirasi sahabat pembaca.