Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian, Hakikat, dan Fungsi Puisi

Sahabat tentu sudah tidak asing dengan istilah puisi. Dari dulu hingga sekarang puisi selalu berkembang mengikuti arah peradaban zaman. Oleh karena itu pengertian puisi pun dari waktu ke waktu selalu berubah meskipun hakikat puisi itu tetap sama. Perubahan pengertian itu disebabkan puisi selalu berkembang karena perubahan konsep keindahan dan evolusi selera. 

Untuk itu dalam postingan kali ini puisi.my.id akan bagikan tentang pengertian, hakikat, dan fungsi puisi yang saya rangkum dari beberapa sumber sebagai tambahan wawasan untuk sahabat semua terkait karya puisi.

Karya sastra terdiri atas dua jenis sastra (genre), yaitu prosa dan puisi. Biasanya prosa disebut sebagai karangan bebas, sedangkan puisi disebuat sebagai karangan terikat. Prosa itu karangan bebas berarti bahwa prosa itu tidak terikat oleh aturan-aturan ketat. Sedangkan puisi itu karangan terikat yang berarti terikat oleh aturan-aturan ketat. Namun dulu dan sekarang sudah berbeda cara pandangnya, untuk sekarang ini, hampir semua penyair berupaya melepaskan diri dari ikatan aturan yang dirasa ketat itu. Karena hal itulah terjadilah kemudian apa yang disebut dengan yang namanya sajak bebas. Sekarang pertanyaanya yaitu, sungguhkah sajak itu bebas. Sejatinya sajak tetap tidaklah bebas, tetapi perlu dipahami bahwa yang mengikat adalah hakikatnya itu sendiri, jadi bukanlah aturan yang ditentukan oleh sesuatu yang di luar dirinya. Aturan diluar diri puisi itu ditentukan oleh penyair yang membuat dahulu ataupun oleh masyarakat. Hal ini tampak pada puisi lama yang harus mengikuti aturan-aturan yang tida boleh dilanggar, yaitu aturan bait, baris, jumlah kata, dan pola sajak, terutama sajak akhir. 
pengertian_puisi

Peristilahan

Dalam dunia kesusastraan indonesia ada 2 (dua) istilah yang tentu sudah dikenal, yaitu sajak dan puisi. Kedua istilah itu sering dicampuradukkan penggunaanya. Misalnya sajak Chairil Anwar disebut juga puisi Chairil Anwar; sajak Aku disebut juga dengan puisi Aku. Mengapa demikian? Hal tersebut disebabkan oleh masuknya istilah puisi bersumber dari bahasa asing ke dalam sastra Indonesia. Istilah ini berasal dari bahasa Belanda poezie. Sebenarnya didalam bahasa belanda ada istilah lain yaitu “gedicht” yang berarti sajak, akan tetapi istilah “gedicht” tidak diambil ke dalam bahasa Indonesia.
Ini semua karena dalam bahasa Indonesia (Melayu) dahulu hanya dikenal satu istilah sajak yang berarti poezie (puisi) ataupun gedicht. Puisi (Poezie) merupakan jenis sastra (genre) yang berpasangan dengan istilah prosa. Gedicht sendiri yaitu berupa individu karya sastra, sedangkan dalam bahasa Indonesia sajak, baik untuk poezie mapupun untuk gedicht. 

Dalam bahasa Inggris ada istilah poetry sebagai istilah jenis sastra: puisi, dan poem sebagai indifudunya. Oleh karena itu, istilah puisi itu sebaiknya dipergunakan sebagai jenis sastra: poetry, sedangkan sajak untuk indifidu puisi: poem. Maka dari itu,pemakaian istilah puisi dan sajak tidak dikacaukan. Misalnya saja antologi puisi, puisi Chairil Anwar untuk menunjuk jenis sastranya, sedangkan indifidu sajak Aku, sajak Pahlawan Tak Dikenal.

Didepan telah dikemukakan bahwa puisi selalu berkembang dari periode ke priode. Oleh karena itu, pengertian mengenai puisi pun turut berubah. Sebagai contoh, kita lihat jajaran sajak dari puisi lama dan puisi baru: Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, dan periode 1970-1990.

Contoh syair

Puteri menangis/seraya berkata,
Kakanda, Wai/apa bicara kita,
Sakit perut/rasanya beta,
Berdebar lenyap/di dalam cita,
Masygul baginda/tiada terkira,
Hilanglah budi/lenyap bicara,
Berkata dengan/perlahan suara,
Kalau tuan/hendak berputera.
(Ali sjahbana, 1996: 49)

Contoh sajak Pujangga Baru

Bukan Beta Bijak Berperi
Bukan beta/bijak berperi,
Pandai mengubah/madahan syair;
Bukan beta/budak negeri,
Musti menurut/undangan mair.

Sarat saraf/saya mungkiri;
Untaian rangkaian/seloka lama,
Beta buang/beta singkiri,
Sebab laguku menurut sukma.
(Effendi, 1953: 28)

Melihat dari dua sajak diatas terlihat adanya keteraturan yang simetris, antara bait-bait, baris-barisnya, bagian barisnya (periodus), dan pula ada pola sajak akhir (/:garis miring dari penulis untuk penjelas).

Contoh sajak Angkatan 45

Kenangan
Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! Tercebar rasanya diri
Membumbung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan benang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakkan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

19 April 1943
(Chairil Anwar, dalam jassin, 1978: 55)

Sculpture

“Kau membiarkan perempuan dan lelaki meletakkn lekuk tbuh mereka meletakkn gerak menggeliat bagai perut ikan dalam air dari gairh tawa sepi mereka dan bungklan tempat kehadirn menggerakkn hadir dan hidup dan lobang yang menangkap dan lepas rasia kehidupan kan tegak menegakkn lekuk bungkaln lobang dalam gerak yang tegak diam dan kau mengentak aku dalam lekuk bungkalan lubangmu mencari kau. (Bachi, 1981: 41)

Sajak Telur

Dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai merindukan telur. (Damono, 1983: 29)

Dalam sajak Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damono di atas, pembaca disuruh mencari satuan-satuan arti sendiri. Tiap baris tidak mempunyai periodus yang pasti, kata-kata hanya bersambung saja. Tidak ada pola sajak akhir atau sajak yang lain. Tidak tampak adanya aturan apa pun.

Dari contoh-contoh diatas, tampak adanya perbedaan yang sangat besar antara puisi lama dan Pujangga Baru dengan sajak Angkatan 45 dan periode 1970-1990. Itulah sebabnya, ada perbedaan pengertian puisi diantara puisi lama dengan puisi baru.

Puisi itu selalu bekembang dari waktu ke waktu karena evolusi selera dan perubahan konsep keindahan. (Riffaterre, 1978: 1).

Puisi menurut Pengertian Lama

Dalam buku pelajaran kesusastraan untuk SMU, masih tampak adanya pengertian puisi menurut pandangan lama, salah satunya dalam buku Wirjosoedarmo (1984: 51) sebagai berikut. Puisi itu karangan yang terikat, terikat oleh (a) banyak baris dalam bait (kuplet/strofa, suku karangan); (b) banyak kata dalam tiap baris (c) banyak suku kata dalam tiap baris; (d) rima; dan (e) irama.

Kalau sahabat perhatikan contoh syair dan sajak Rustam Effendi, penyar Pujangga Baru, tampaklah bahwa kedua sajaak itu sesuai dengan pengertian atau definisi yang dikemukakan Wirjosoedarmo. Coba, perhatikan contoh sajak penyair Pujangga Baru berikut.

Gembala

Perasaan siapa/tidakkan nyala
Melihat anak/berlagu dendang
Seorang sahaja/di tengah padang
Tiada berbaju/buka kepala
Beginilah nasib/anak gembala
Berteduh di bawah/kayu nan rindang,
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang ke rumah/di senja-kala.
(Yamin, dalam Jassin, 1987: 323)

Garis miring (/) dari penulis untuk memperjelas. Sajak M. Yamin itu sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Wirjosoedarmo. Sajak itu terikat oleh jumlah periodus, yaitu ada dua periodus tiap baris. Periodus adalah bagian pembentuk baris sajak. Satu periodus terdiri atas dua kata. Pada umumnya, baris terdiri atas empat kata. Tiap-tiap baris tampak adanya jumlah suku kata yang sama atau hampir sama, antara 9-10 suku kata. Dalam sajak itu tampak adanya pola sajak akhir yang tetap, yaitu a-b-b-a tiap baitnya. Dengan adanya susunan teratur, jumlah kata dan suku kata tetap dan pola sajak tetap maka tampak adanya irama yang tetap atau ajeg. Tampak dalam sajak contoh itu bahwa ikatan formal; bentuk yang dapat dilihat mata.

Bentuk-bentuk formal itu adalah alat-alat atau sarana-sarana kepuitisan untuk mendapatkan nilai estetis atau nilai seni dengan bentuk formal yang ajeg atau tetap dan simetris (Seimbang).

Hida
Hida Seorang Pengajar di salah satu sekolah swasta, Suka menulis puisi dan cerpen, dan saat ini setidaknya telah memiliki ratusan judul puisi dan puluhan cerpen, melalui blog ini berharap karya saya dapat bermanfaat dan menginspirasi sahabat pembaca.